Connect with us

INDUSTRI

Kadin: Bangun Pabrik Gula Rafinasi Butuh US$100 Juta

Published

on

goBISNIS— Pelaku usaha memprediksikan untuk membangun pabrik gula rafinasi dana investasi yang dibutuhkan tidak kurang dari US$100 juta.

Ketua Komite Tetap Pengembangan Industri Derivatif Pertanian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Andi Bachtiar Sirang mengatakan besaran dana yang dibutuhkan untuk pembangunan pabrik gula rafinasi berkapasitas 8.000 ton cane per day (TCD) adalah US$100 juta.

“Untuk pembangunan pabrik gula rafinasi berkapasitas 8.000 TCD itu sekitar Rp1 triliun atau US$100 juta. Kalau 10.000 TCD itu US$130 juta, dan itu baru pabrik saja,” katanya pada Bisnis, Selasa (6/3).

Pembangunan tersebut belum termasuk lahan untuk menanamkan komoditasnya seperti tebu atau raw sugar. Oleh sebab itu, dia menyarankan model usaha yang cocok bagi industri gula tanah air itu seperti model kelapa sawit.

Andi mengatakan, 20% pasokan bahan baku bisa didapatkan dari inti kebun yang dimiliki oleh perusahaan sedangkan 80% sisanya didapatkan dari petani. Dari skema tersebut ekosistem yang sehat bisa terlahir.

Hal tersebut termaktub dalam Permentan no.21 tahun 2017 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan yang menyatakan usaha pengolahan hasil perkebunan harus memenuhi sekurang-kurangnya 20% dari keseluruhan bahan baku yang diperlukan berasal dari kebun yang diusahakan sendiri. “Model kemitraan seperti ini adalah yang paling cocok bagi gula maupun kelapa sawit,” katanya.

Menurutnya, dengan menggunakan pola kemitraan, pengusaha tidak perlu lagi pusing dengan luas lahan yang diperlukan. Pengusaha pun bisa bermitra dengan Perhutani mengenai lahan yang akan digunakan sebagai produksi gula rafinasi.

“Bekerjasama dengan perhutani, karena tidak ada lahan lagi untuk di buka. Sementara Jawa adalah wilayah paling potensial untuk tebu, karena pengaruh cuaca dan lain-lain,” katanya.

Baca Juga :   Pemerintah Mau Caplok 51% Saham Freeport, Begini Caranya

Menurutnya, pengusaha hanya memiliki dua pilihan untuk membuka pabrik di Jawa yaitu menggunakan lahan perhutani dengan sistem sewa atau bagi hasil dan memakai kebun yang sudah ada karena kemungkinan membuka lahan itu kecil.

Dalam catatan Bisnis, Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) pada tahun ini memerlukan pengadaan lahan dengan luas sekitar 360.000 hektare guna menopang kebutuhan gula nasional, baik gula rafinasi maupun konsumsi.

Adapun produktivitas tebu per hektare (ha) di Indonesia saat ini menurutnya masih berada di level 80 per ha. Angka ini dirasa masih kecil bila dibandingkan dengan produktivitas lahan tebu di luar negeri bisa mencapai 120 ton tebu per ha.

sumber : BISNIS

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BANYAK DIBACA

Copyright © 2018, www.goBISNIS.id